Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Maret 2021
KERAGAMAN JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT SEKITAR HUTAN LINDUNG GUNUNG BERATUS, KALIMANTAN TIMUR
Dosen Penanggung
Jawab :
Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M.Si
Disusun Oleh
Anggi Lubis
191201100
HUT 4D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun judul Paper ini adalah “ Keragaman Jenis dan Pemanfaatan Tumbuhan Berkhasiat Obat Oleh Masyarakat Sekitar Hutan Lindung Gunung Beratus, Kalimantan Timur”. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen Mata Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M.Si yang telah memberikan materi dengan baik.
Penulis menyadari bahwa Paper ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari isi mau pun cara penulisannya. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran-saran yang dapat membangun. Agar penulis semakin bisa belajar dari kesalah dan menjadi lebih baik lagi dalam menulis paper kedepannya.
Medan, Maret 2021
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Sejak dahulu bangsa Indonesia telah mengenal dan memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan, jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan modern yang dikenal masyarakat.Tradisi penggunaan obat tradisional diturunkan dari satu generasi ke generasi dan telah berlangsung dalam kurunwaktu yang lama. Bermula dari hasil ujicoba masyarakat terhadap tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar tempathidup mereka untuk memenuhikebutuhan akan pengobatan.
Tumbuhan merupakan sumberdari obat-obatan yang digunakan dalampengobatan berbagai penyakit. Secarahistoris semua persiapan obat yangberasal dari tanaman, baik dalam bentuksederhana dari bagian tanaman ataudalam bentuk yang lebihkompleks dariekstrak mentah, campuran,dan lainsebagainya. Saat inisejumlahbesar obatyang dikembangkan dari tanaman yangaktif melawan sejumlahsejumlahpenyakit (Shosan, 2014).Masyarakat secara turun-tenurun telah lama mengenal fungsitumbuhan sebagai obat tradisional dalamupaua mengatasi masalah kesehatan.
Tumbuhan berkhasiat obat adalah jenis tumbuhan yang pada bagian-bagian tertentu baik akar, batang, kulit, daun maupun hasil ekskresinya dipercaya dapat menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit (Noorhidayah & Sidiyasa, 2006). Saat ini, upaya pengobatan dengan ba-han-bahan alam berkembang pesat. Per-kembangan pemanfaatan tumbuhan obat sangat prospektif ditinjau dari berbagai faktor pendukung, seperti tersedianya sumberdaya hayati yang kaya dan beranekaragam di Indonesia. Sejarah pengobatan tradisional yang telah ber-kembang menjadi warisan budaya bang-sa, serta isu global “back to nature” yang meningkatkan pasar produk herbal.
Tumbuhan obat adalah seluruh spesies tumbuhan yang diketahui ataudipercaya mempunyai khasiat obat.Tumbuhan obat tersebut dikelompokkan menjadi tumbuhan obat tradisional, tumbuhan obat modern, dan tumbuhan obat potensial. Tumbuhan obattradisional adalah spesies tumbuhan yangdiketahui atau dipercayai masyarakatmempunyai khasiat obat dan telahdigunakan sebagai bahan baku obattradisional. Tumbuhan obat modernadalah spesies tumbuhan obat yangsecara ilmiah telah dibuktikanmengandung senyawa/bahan bioaktifyang berkhasiat obat dan penggunaannyadipertanggungjawabkan secara medis.Tumbuhan obat potensial adalahtumbuhan obat yang mengandungsenyawa atau bahan aktif yang berkhasiatobat.
Hutan Lindung Gunung Beratus (HLGB) merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki nilai keaneka-ragaman hayati tinggi (Handayani, 2003). Kawasan HLGB ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 24/ Kpts/UM/1/1983 dan telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dengan Kepu-tusan No. 321/Kpts-II/1992 seluas 28.261 ha (Pemerintah Kabupaten Kutai Barat et al., 2005). Di sekitar HLGB, tinggal ke-lompok sosial masyarakat Dayak Benuaq yang kehidupannya seperti masyarakat Dayak pada umumnya. Kehidupan ma-syarakat Dayak Benuaq tidak dapat dipi-sahkan dengan hutan. Mereka memanfaatkan hasil hutan seba-gai bahan pangan, bahan upacara adat, obat-obatan, ataupun bahan bangunan. Penelitian Susiarti (2005) di Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, mene-mukan sedikitnya 60 spesies tumbuhan telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat Dayak Benuaq yang tinggal di sekitar Sungai Mahakam.
Rumusan Masalah
1. 1. Apa itu tanaman berkhasiat Obat?
2. 2. Bagaimana pemanfaatan tanaman berkhasiat obat di Sekitar Hutan Lindung Gunung Beratus
Ta 3. Tanaman berkhasiat obat jenis apa yang dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitaran Hutan Lindung Gunung Beratus?
Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Tanaman obat
2. 2. Untuk mengetahui informasi pemanfaatan tanaman berkhasiat obat di Sekitar Hutan Lindung Beratus
3. 3. Untuk mengetahui tanaman jenis apa saja yang dimanfaatkan oleh masyrakat di sekitar Hutan Lindung Gunung Beratus
BAB II
ISI
Tanaman Berkhasiat Obat
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Indonesia. Dengan keanekaragaman etnis yang ada, maka pemanfaatan sebagai obat juga semakin beraneka ragam. Akan tetapi jumlah jenis tumbuhan berkhasiat obat yang ada di Indonesia sampai saat ini belum diketahui secara pasti, sehingga diperlukan pendokumentasian secara menyeluruh terhadap penggunaan tumbuhan sebagai bahan baku pengobatan.
Tanaman obat diartikan sebagaijenis tanaman yang sebagian atau seluruh tanaman yang digunakan sebagai obat dan ramuan obat-obatan. Tumbuhan berkhasiat obat mengandung eksudat,ialah isi sel yang secara spontan keluardari tanaman atau dengan cara tertentusengaja dikeluarkan dari selnya danbelum berupa zat kimia atau zat murni yang dapat berkhasiat obat.
Tumbuhan berkhasiat obatmerupakan tumbuhan yang pada bagian-bagian tertentu baik akar, batang, daun,buah maupun hasil ekskresinya dipercaya dapat menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit. Saat ini, upaya pengobatan dengan bahan-bahan alam berkembang pesat. Perkembangan pemanfaatan tumbuhan obat sangat prospektif ditinjau dari berbagai faktor pendukung, seperti tersedianya sumberdaya hayati yang kaya danberanekaragam di Indonesia.
Pemanfaatan Tanaman Berkhasiat Obat di Sekitar Hutan Lindung Gunung Beratus
Pemanfaatan tumbuhan dalam pengobatan tradisional masih mengandalkan pada warisan pengetahuan turun-temu-run. Sistem pewarisan ini bersifat tertutup dalam satu garis keturunan atau keluarga . Di dalam masyarakat Dayak, meskipun pada suku yang sama, masing-masing keluarga dapat memiliki pengetahuan pengobatan tradisional yang berbeda dari nenek moyang mereka. Proses transfer pengetahuan tumbuhan obat dilakukan secara lisan, tertutup, dan tidak terdokumentasi. Hal ini menja-dikan pengetahuan pengobatan tradisional sulit berkembang dan lambat laun dapat terkikis karena penerimaan masing-masing orang akan berbeda dalam proses transfer tersebut.
Dalam hal penyampaian pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat, dari hasil wawancara (data primer) diketahui bahwa masyarakat memiliki kecenderungan sikap tertutup terhadap orang luar. Hal ini disebabkan pengetahuan yang dimiliki dianggap sebagai warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dirahasiakan. Pengetahuan hanya disampaikan kepada orang-orang tertentu saja. Keterbukaan informasi tumbuhan obat yang disampaikan kepada orang luar pada tiap lokasi berbeda-beda. Di Kalimantan Tengah, misalnya, pada suku Dayak Siang penyampaian informasi tentang tumbuhan obat kepada orang lain, meskipun pada suku yang sama, dapat dikenakan hukuman adat yang dalam istilah setempat disebut jipen atau denda.
Berdasarkan jenis penyakit yang di-obati, tumbuhan hutan berkhasiat obat yang dimanfaatkan masyarakat Dayak se-kitar HLGB dapat digolongkan menjadi obat luka dan penyakit kulit;obat penyakit dalam seperti malaria dan batu ginjal; obat gejala influenza seperti demam dan pilekobat diare; penawar racun;penguat stamina; dan obat pemulih
kondisi ibu pasca persalinan. Bagian
tumbuhan yang paling banyak digunakan
sebagai obat oleh masyarakat adalah
akar (56,75%), kemudian batang (10,81%),
kulit kayu/pohon (10,81%), biji
(2,7%), getah (2,7%), dan buah (2,7%).
Dari sisi konservasi, penggunaan akar
sebagai bahan baku obat akan meng-ganggu
kelangsungan hidup tumbuhan dan
kemungkinan menyebabkan kematian
karena bagian akarnya diambil. Cara
pengolahan dan penggunaan tumbuhan
obat oleh masyarakat tergolong
sederhana, yaitu direbus, ditumbuk, dibalurkan, ataupun langsung dimakan. Dosis pengobatan pun hanya berdasarkan kebiasaan ataupun ukuran tubuh pasien. Sebagai contoh, pada pemanfaatan akar sampay (Tinospora
crispa), sebelum di-gunakan untuk pengobatan, tumbuhan jenis liana ini terlebih dahulu dibelitkan ke
pinggang pasien untuk mengukur pan-jang
batang yang dibutuhkan dalam peng-obatan.
Selanjutnya untuk pengobatan, misalnya
penyakit batu ginjal, pasien harus
meminum air rebusan batang yang te-lah
diukur tersebut.
Tercatat 36 jenis tumbuhan, terdiri dari 36 marga dan 30 suku, yang dimanfaat-kan sebagai obat oleh masyarakat Dayak Benuaq di sekitar kawasan HLGB. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Susiarti (2005), terdapat perbedaan dan persamaan dalam jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat Dayak Benuaq di Desa Tanjung Isuy, Lempunah, dan Mancong dengan masyarakat Dayak Benuaq di Desa Tanjung Soke dan Gerunggung. Beberapa jenis tumbuhan seperti Cassia alata, Callicarpa longifolia, Lansium domesticum, Blumea balsamifera, Brucea javanica, Tinospora crispa, Fordia splendidissima, Hyptis brevipes, dan Clausena excavatasama-sama dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Perbedaan terletak pada penyebutan nama daerah, bagian yang digunakan, dan khasiatnya. Blumea balsamifera oleh masyarakat yang tinggal di Desa Tanjung Isuy, Lempunah, dan Mancong disebut dengan nama lokal mug. Bagian yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat adalah daun sebagai obat sakit kepala. Masyarakat Desa Tanjung Soke dan Gerunggung menyebut B. balsamifera dengan nama kutai sembung. Masyarakat sering memaanfaatkan bagian akarnya sebagai campuran obat paska persalinan. Cassia alata oleh masyarakat Dayak Benuaq yang tinggal di Desa Tanjung Isuy, Lempunah, dan Mancong disebut dengan nama lokal gerenggang, se-dangkan oleh masyarakat sekitar HLGB disebut gelinggang. Walaupun terdapat perbedaan penyebutan nama daerah, jenis tumbuhan obat tersebut memiliki manfaat yang sama yaitu pucuk daun atau daun-nya digunakan sebagai obat gatal, panu, kadas, atau kurap. Selain perbedaan pada penyebutan nama daerah, bagian yang digunakan, dan khasiatnya, terdapat perbedaan jumlah jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat. Masyarakat di Desa Tanjung Isuy, Lempunah, dan Mancong menggu-nakan sekitar 60 jenis tumbuhan obat, sedangkan di Desa Tanjung Soke dan Gerunggung hanya 30 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat.
BAB III
KESIMPULAN
Tumbuhan berkhasiat obat merupakan tumbuhan yang pada bagian-bagian tertentu baik akar, batang, daun,buah maupun hasil ekskresinya dipercaya dapat menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit. Keragaman jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Dayak Benuaq di sekitar kawasan Hutan Lindung Gunung Beratus (HLGB) berhasil mengidentifikasi 36 jenis tumbuhan obat yang berasal dari 30 famili. Masyarakat Dayak Benuaq memanfaatkan tumbuhan obat untuk mengobati obat luka dan penyakit kulit, obat ma-laria, batu ginjal, hipertensi, demam, pilek, diare, penawar racun, penguat stamina, dan pemulih kondisi ibu pasca persalinan. Kearifan tradisional dalam pemanfaat-an tumbuhan obat yang dimiliki oleh masyarakat Dayak Benuaq di sekitar HLGB diperoleh secara turun-temurun berdasarkan hasil pengalaman para pendahulunya.
DAFTAR PUSTAKA
Falah, et al. 2013. Keragaman Jenis Dan Pemanfaatan Tumbuhan Berkhasiat Obat Oleh Masyarakat Sekitar Hutan Lindung Gunung Beratus, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian dan Konservasi Hutan 10(1) : 1-18
Laraassati et.al. 2019. Inventarisasi Tumbuhan Berkhasiat Obatdi Sekitar Pekarangan Di Kelurahan Sentosa. Jurnal Indobiosains 1(2): 76-87
Sambara et.al. 2016. Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisionalolehmasyarakat Kelurahan Merdekakecamatan Kupang Timur 2016. Jurnal Info Kesehatan 14(1): 1111-1123

Wah mantap sekali pack
ReplyDeleteBagus, menambah wawasan saya.
ReplyDelete